It’s not your fault but I want to cry
“Terserah apa maumu! Kau yang memintaku
untuk meninggalkanmu, tapi tolong jangan kau paksa aku untuk melupakanmu!”
Air mata ini begitu deras mengalir,
Mengapa dia tega melakukan ini padaku? Aku tahu kejadian enam tahun yang lalu
masih teringat jelas di ingatanku dan aku rasa, aku sudah membuatnya marah dan
kecewa padaku. Jika dia membenciku sekarang, aku pantas menerimanya.
“Chintya namanya” ucapku dalam hati.
Wajahnya masih sangat kenal di ingatanku, Dia adalah sahabatku dari kecil dan
sekarang dia tega memisahkanku dengan seseorang yang aku cintai.
Aku menghapus air mataku setelah
menemukan sebuah album foto yang berada di meja, dan ku buka satu persatu
lembaran demi lembaran, dan tak terasa air mataku terjatuh ketika melihat foto
seseorang yang aku cintai. Susunan fotonya tidak ada yang berubah seperti enam tahun yang lalu “Bagaimana kabarmu? Apa
kau baik-baik saja? Aku merindukanmu! Tapi kau lebih memilih wanita itu
dibanding aku.” Pertanyaan itulah yang sering aku ucapkan setiap kali aku
memandang fotonya.
enam tahun yang lalu bukanlah waktu yang
singkat aku bersama dia, Ya pasti banyak terjadi perubahan yang terjadi pada
kita berdua. “Bagaimana wajahmu sekarang? Apa kau bahagia bersamanya? Apakah
kau masih sama dengan tiga tahun yang lalu dimana kita masih bersama?” ucapku
“Dan sekarang dengan kejamnya kau
memintaku untuk melupakanmu walau sebenarnya itu bukan yang ingin aku mau!”
AAAAAA teriakku sambil melempar album foto itu kesembarang tempat. Aku
sebenarnya marah dengan perlakuanmu yang terakhir kalinya padaku, tapi ntah
mengapa aku tidak bisa marah padamu di saat terakhir kita bersama!! Walau
terkadang aku bingung dengan perasaanku sendiri dan terkadang ada perasaan yang
kesal sehingga aku mempunyai niatan untuk melupakanmu, tapi rasa rindu itu
lebih besar dibandingkan rasa kesalmu padamu! Entah bagaimana jika aku bertemu
denganmu suatu saat nanti. Mungkin canggung melihat satu sama lain dan tidak
seindah dulu pastinya. Dan aku tidak akan memaksakan rasa sukaku padamu karna
kau telah bersama orang lain dan aku ikhlas menerima dan menjalani itu semua.
Keesokannya hari dimana chintya dan
mantan pacarku mengucap ijab Kabul dan mereka mengundangku untuk datang ke
pernikahannya, Sebenarnya aku tidak ingin datang ke pernikahan mereka berdua.
Walau ada perasaan takut, sedih nantinya akhirnya aku memberanikan diri untuk
datang ke pernikahan mereka.
Hari ini dimana hari pernikahan mereka,
Aku melihat sesosok lelaki yang mengenakan jas putih, entah bagaimana
perasaanku saat ini melihat dia, dia terlihat lebih berbeda sekarang terlihat
lebih gagah sekarang. Aku ingin sekali memelukmu, Aku ingin meluapkan segala
rasa rinduku selama enam tahun ini. Tapi ntah kenapa keberanianku hilang begitu
saja melihat sesosok wanita di sampingnya, Aku taku merusak momen bahagia ini.
Sampai akhirnya aku memberanikan diri
untuk menaiki panggung. Aku hanya bisa memandangnya saat memberi ucapan selamat
kepada mereka berdua.
“Seharusnya aku yang disitu”
“Seharusnya kau tidak merebut nanda
dariku” ucapku dalam hati setelah memberi ucapan selamat kepada mereka.
Akhirnya aku meninggalkan gedung
pernikahan mereka dan langsung bergegas dimana aku akan mengingat sedikit
masa-masa aku bersama dia tiga tahun lalu.
Sesampainya di sana, aku menemukan
sesosok lelaki yang aku kenal.
“wahyu?” ucapku ragu-ragu. Dia menaikkan
kepalanya dan menatapku, terlihat jelas dia sangat terkejut melihat
kedatanganku yang tepat berdiri di hadapanku dengan mata yang sembab.
“yunita?” sahutnya terkejut.
“Sedang apa kau disini? Bukannya kau datang
ke pernikahan mantan pacar kita?” tanyanya kepadaku.
“Aku sudah dari sana. Kau sendiri?”
tanyaku
“Aku malas ke sana” ucapnya dengan nafas
sesak.
Ngomong-ngomong aku, chintya dan wahyu
sudah sahabat dari kecil, orang tua kita bertiga sudah cukup akrab.
Sesungguhnya wahyu sudah lama berpacaran dengan chintya, dan aku berpacaran
dengan teman sekelasku.
Sabtu pagi, dimana kita bertiga janjian
untuk ke dufan, aku mengajak wahyu untuk ikut menemaniku. Beberapa hari
kemudian mantan pacarku dekat dengan chintya dan tidak disangka-sangka dia dan
chintya jadian tanpa sepengetahuanku dan wahyu. Dan sampai saatnya aku
mengetahui kalau chintya dan dia berselingkuh dari ucapan sahabatku sendiri
yang tidak sengaja bilang “aku sayang nanda”
“oh my god!” Sakit hati ini mendengar
ucapan yang tadi keluar dari mulut sahabatku sendiri. Berani-beraninya dia
selingkuh. Kau tahu aku dan nanda sudah berpacaran selama tiga tahun dan sudah
mau ke tahap pelaminan, tapi semua itu nihil ketika chintya merebutnya dariku.
Ya, aku harus melupakan masa laluku.
Memang sedikit berat untung melupakannya, tapi itu adalah cara terbaik untuk
semuanya.
“How many more tears like today are
left? I don’t know love or farewell, will you tell me? It’s not your fault but
I want to cry. I’m dreaming a dream that is too blue” ucapku
ABOUT THE AUTHOR
Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible
0 komentar:
Posting Komentar